Biografi Syaikh Sa’ad Al Ghamidi

Syaikh Sa’ad Said Al Ghamidi seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang berasal dari Arab Saudi. Beliau dilahirkan pada tanggal 19 Mei tahun 1967 atau 1387 H di kota Dammam, Mantiqah Syarqiyah. Di seluruh dunia Islam, beliau dikenal sebagai seorang qari’ Al Qur’an. Rekaman murattalnya telah beredar di seantero dunia.

Dari pernikahannya Syaikh Al Ghamidi mempunyai tiga orang anak lelaki yaitu Mujahid, Salman, Abdul Aziz, dan dua putri lainnya.

Syaikh Al Ghamidi menyelesaikan pendidikan dasarnya di Dammam. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dari Universitas Imam Muhammad bin Saud dari fakultas Ushuluddin. Beliau lulus dari Universitas ini pada tahun 1410.

Kemudian beliau mendalami bacaan Al Qur’an. Pada tahun 1990, beliau telah menghafal 30 Juz Al Quran. Bacaan Al Quran beliau sangat mudah dicirikan dengan lantunan suara yang sangat indah.  Tahun 1415 dan tahun 1417, ia mendapat gelar Sarjana Muda dari sanad qira’ah diambil dari riwayat Hafsh ‘an Ashim.

Rekaman bacaan Al Quran beliau juga sangat sukses. Selain dikenal di banyak dunia arab, beliau juga dikenal di beberapa negara luar Arab seperti Austria, Amerika Serikat dan Inggris

Bacaan Qur’an Syaikh Al Ghamidi kemudian menyebar dan dikenal umum setelah dibuat versi rekamannya sampai kemudian pihak Kerajaan Saudi Arabia menunjuknya untuk menjadi salah satu imam tamu untuk memimpin shalat tarawih di Masjid Nabawi sejak tahun 2009.

Menurut pengakuannya, Syaikh Sa’ad sangat mencintai bacaan dan murattal Syaikh Muhammad Shadiq Al Minsyawi dan Syaikh Marwan Al Qadiri.

“Saya tidak merasa bacaan masuk dalam hati saya, tetapi ada di dalam diri saya, seperti bacaan Syaikh Muhammad Al Minsyawi yang sangat istimewa dan menjadi ciri khas miliknya,” kata beliau.

Pengalaman kerja beliau dimulai pada tahun 1411 hingga 1415 H dimana beliau bekerja sebagai seorang guru. Kemudian dilanjutkan menjadi pembimbing Pendidikan Islam pada 1416 hingga 1423 H.

Saat ini beliau bekerja sebagai direktur sekolah swasta Muhammad Al Fatih di Dammam dan menjadi penanggungjawab utama mengajar Al Qur’an di Markaz Imam Al Khatibi di Dammam. Selain itu, beliau juga bertanggungjawab dalam studi aqidah dan pendidikan di kantor Manarul Huda.  Juga sebagai Imam dan khatib di Masjid Yusuf bin Ahmad di Dammam. Beliau juga menjadi anggota lajnah sosial Damam yang berkonsentrasi dalam perundangan masyarakat.

Beliau memiliki situs pribadi di alamat: http://www.saadghamdi.com/ dan laman Facebook di https://www.facebook.com/saad.ghamdi

Menolak Jadi Imam Masjidil Haram demi Orangtua

Ketika tim redaksi Majalah Nun melakukan kunjungan ke kantor tempat beliau bekerja, Markaz Manarul Huda, di Dammam, sejumlah pertanyaan diajukan pada beliau.

Di antara pertanyaan yang disampaikan kepada beliau dalam kunjungan tersebut adalah, “Sejauh apa kebenaran berita yang mengatakan bahwa Anda ditawari untuk menjadi imam di Al Haram Al Makki (Al Masjid Al Haraam) oleh Al-Amiir ‘Abdul Majiid Rahimahullaah? Apa sebab Anda menolak tawaran tersebut?”

Syaikh Al Ghamidi menjawab, “Ya, saya pernah ditawari untuk menjadi Imam Al Haram Al Makki beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi saya menolaknya dalam rangka memenuhi keridhaan kedua orang tua saya yang menginginkan saya agar tetap tinggal bersama mereka. Saya tidak pernah menyesal telah menolak tawaran tersebut.”

Karya Tulis

Meskipun dikenal sebagai qari’, Syaikh Al Ghamidi juga menulis beberapa kitab, yaitu:

Mushaf Al Murattal lil Quran (1417 H)
Nudzumu Hidayah Al Murtab fi Mutasyabih Al Kithab lil Imam Sakhawi Rahimahullah
Nudzumu Alfiyah Al Iraqi lil Hafizh Al Iraqi
Risalah, Illa Ahlul Quran
Al Adzkar
Ruqyah Syar’iyah
Kunjungan ke Indonesia

Dalam hari-hari ini, Syaikh Al Ghamidi berkunjung ke Indonesia atas undangan Ustadz Yusuf Mansyur .

Rabu malam, 27 Maret 2013 saat berkunjung ke Masjid Istiqlal, Syaikh Ghamidi langsung bertindak sebagai imam yang melantunkan surat An Naba dengan irama tartilnya.

Selepas shalat, Syaikh Al Ghamidi memimpin doa. Tak lama setelah itu, ia didatangi jamaah yang ingin bersalaman dengannya. Walau malam itu yang shalat Isya’ hanya memenuhi dua setengah shaf, tapi mereka tetap antusias ingin bersalaman Syaikh. Sementara Syaikh Al Ghamidi tak henti-hentinya tersenyum dan menatap hangat mereka yang mengerubunginya

Saat diwawancara,  Syaikh Ghamidi menyampaikan kesan positifnya dalam kunjungan perdananya ke Indonesia itu. “Orang indonesia itu baik-baik. Mereka itu muaddib (sopan),” jelas Syaikh.

Syaikh pun menceritakan setiap orang Indonesia yang ia temui selalu ramah kepadanya. Walau ia tahu, sebenarnya tidak setiap orang Indonesia yang mengetahui bahwa ia adalah imam masjid di Arab Saudi. Itu jualah mungkin yang membuatnya juga ramah kepada setiap orang Indonesia.

Hal  menarik dan mengesankan dari kepribadian Syaikh Al Ghamidi adalah kerendahan hatinya. Sekalipun ia adalah imam besar, tapi ia tak pernah mau dicium tangannya. Sepanjang wawancara, setidaknya sudah dua kali ia menarik tangannya ketika hendak dicium oleh mereka yang menyalaminya.

Malam sebelumnya, di Pondok Pesantren Penghafal Al Quran pimpinan ustadz Yusuf Mansyur, Syaikh Al Ghamidi membedah sedikit tentang surat Al-Ashr.

“Kalau Allah tidak menurunkan surat lain dalam Qur’an, maka cukuplah surat Al-Ashr ini mewakili keseluruhan isi Qur’an,”  ungkap Syaikh mengawali kajian ba’da Maghrib (26/3) di pondok pesantren Daarul Qur’an, Tangerang.

Jum’at, 29 Maret 2013, beliau didaulat menjadi imam Shalat Jumat di Masjid At Taqwa Kebayoran Baru.

Selepas shalat Jumat, Syaikh Al Ghamidi menyampaikan tausyiahnya di depan para jamaah. Diterjemahkan oleh Ustadz Yusuf Mansur, Al Ghamidi menyerukan umat Islam untuk memurnikan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syaikh juga berpesan agar umat Islam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya.

“Orang-orang musyrik, orang-orang kafir, mereka tidak bersyukur kepada Allah,” ujarnya.

Sebelum menyampaikan tausyiah singkat, Syaikh Al Ghamidi melantunkan Surat Al Fatihah dan Surat Al ‘Ashr. Syaikh membaca ayat demi ayat sambil berdiri menghadap para jamaah. Hadirin lalu melantunkan ulang ayat Al Qur’an yang telah dibacakan Al Ghamidi secara berjamaah.

Menariknya, selain mengimami shalat Jumat, Syaikh Al Ghamidi juga didaulat mengimami shalat jenazah salah seorang mayit yang dishalatkan di Masjid At Taqwa. Jamaah pun antusias menghadiri rangkaian pelaksanaan shalat Jumat yang bisa dibilang langka ini hingga selesai.

Munsyid Haraki

Selain dikenal sebagai seorang qari’ Al Qur’an, beliau juga dikenal sebagai munsyid yang digemari. Salah satu nasyid yang paling dikenang dari beliau berjudul Ghuraba.

Sebagian qasidah yang beliau lantunkan adalah:

Bukanlah orang asing itu mereka yang berpisah dari negeri mereka dan mengucapkan selamat tinggal sekarang
Tapi orang asing itu ialah mereka yang tetap serius di kala manusia di sekelilingnya asyik bermain-main
Dan tetap terbangun ketika manusia disekelilingnya asyik tidur dengan lenanya
Dan tetap mengikuti jalan lurus dikala manusia dalam kesesatannya tenggelam
tanpa arah

Dan betapa benarnya sebuah syair ketika dia berkata
Berkata kepadaku para sahabat, “Aku melihatmu sebagai orang asing”
Di antara orang banyak ini engkau tanpa teman dekat
Maka aku berkata, “Sekali-kali tidak! Bahkan orang banyak itulah yang asing, sedang aku berada di kehidupan dan inilah jalanku”
Inilah orang asing itu
Asing di sisi mereka yang hidup sia-sia di antara manusia

sumber:www.fimadani.com

Hindari Makanan Ini Agar Tetap Sehat dan Awet Muda

Kabarnya dengan mengonsumsi makanan yang tepat, dapat membuat kulit tetap muda hingga usia senja. Seperti yang dilakukan oleh para vegetarian misalnya, kulit mereka cukup kenyal dan selalu tampak segar.

Tetapi, Anda tak harus menjadi vegetarian juga kok demi memiliki kulit awet muda. Anda cukup harus menghindari beberapa makanan berikut ini.

Gula

Mengonsumsi banyak gula dapat membuat tekanan gula darah naik turun seperti rollercoaster. Efeknya tentu saja mempengaruhi kandungan kalori di dalam tubuh, yang sulit diurai sehingga kebutuhan insulin akan naik. Di sinilah akhirnya tubuh dapat menderita diabetes tipe 2.

Semakin sedikit gula yang Anda konsumsi, maka Anda akan terbebas dari ancaman penyakit jantung, diabetes, dan semua penyakit yang berhubungan dengan penyumbatan pembuluh darah lainnya.

Garam

Tak hanya gula saja yang perlu dibatasi, demikian pula dengan garam. Rasa asin di dalam garam terbentuk dari sodium yang dapat meningkatkan tekanan darah. Saat darah tinggi, kerja bagian tubuh seperti jantung, mata dan otak jadi semakin keras dan tertekan.

Untuk itu, dianjurkan agar setiap orang membatasi konsumsi garam setiap harinya.

Makanan Yang Diawetkan

Mengandung berbagai macam zat kimia, makanan yang mengandung pengawet dapat mempengaruhi kesehatan tubuh dan kulit. Perlahan kulit akan muncul garis-garis dan keriput serta kerja ginjal akan lebih berat.

Sekalipun bertugas untuk mengawetkan, namun obat pengawet makanan tidak akan membuat Anda awet muda, justru membuat Anda mengalami penuaan dini.

Lemak Tak Sehat

Lemak jahat atau dikenal dengan HDL adalah lemak yang seringkali terdapat pada gorengan, daging, jerohan, dan lain sebagainya. Jenis lemak itu baiknya tidak dikonsumsi apabila Anda ingin kulit tetap cantik dan awet muda.

Sebaliknya, Anda perlu mengonsumsi lemak baik yang diperoleh terutama dari nabati, seperti minyak kelapa, minyak zaitun, alpukat, dan lain sebagainya.

Kini, sudah tahu bagaimana resep tetap awet muda kan? Yuk mengawali hidup sehat dan petik manfaat awet muda sejak sekarang.

sumber:www.fimadani.com

5 Jenis Nyeri Payudara yang Perlu Diketahui Wanita

Wanita jaman sekarang tidak lepas dari bayang-bayang penyakit kanker dan tumor payudara. Penyakit yang satu ini memang menjadi salah satu resiko gaya hidup modern dan rentan stres pada wanita jaman sekarang. Kadang kita tak sempat melakukan olahraga dan sembarangan mengonsumsi makanan instant yang meningkatkan resiko kanker dan tumor payudara.

Jangan heran bila Anda mulai merasakan sakit atau nyeri di payudara Anda, mungkin ketakutan akan kedua penyakit ganas tersebut sudah mulai membayang-bayangi. Namun tahukah Anda, ada 5 macam nyeri di payudara yang tidak semuanya merupakan gejala kanker atau tumor payudara. Berikut ini beberapa jenis nyeri di payudara yang perlu Anda ketahui.


1. Kanker

Kita mulai dari penyebab terbesar nyeri-nyeri di payudara. Nyeri payudara yang disebabkan oleh kanker memang perlu diwaspadai. Oleh karena itu kita harus menyadari perubahan, benjolan atau apapun yang terasa janggal di payudara kita. Konsultasikan dengan beberapa dokter untuk mengetahui kejelasan gejala yang Anda alami.

2. PMS

Salah satu penyebab nyeri di payudara adalah PMS. Hal ini adalah pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron yang mengalami naik turun sebelum, selama bahkan setelah menstruasi tiba. Kondisi berbeda-beda pada masing-masing wanita. Bila Anda merasa nyeri payudara tapi tak menemukan benjolan, mungkin Anda bisa melihat kalender apakah berdekatan dengan siklus menstruasi bulanan.

3. Hamil

Penyebab lain nyeri di payudara adalah ketika Anda sedang dalam masa kehamilan. Tidak jauh berbeda dengan PMS, hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi hormonal. Bisa jadi dalam kondisi ini, payudara Anda mengalami nyeri sekaligus bengkak. Hal ini karena payudara juga mulai mempersiapkan diri sebelum anak lahir.

4. Puber

Well, bila nyeri terjadi pada masa remaja, bisa jadi Anda sedang mengalami perubahan dalam masa pubertas. Uniknya, nyeri payudara ini tak hanya dialami anak gadis, lho. Anak remaja pria juga bisa mengalami hal yang sama dalam pertumbuhannya.

5. Kista

Kista adalah salah satu penyebab umum mengapa wanita mengalami nyeri di payudara. Biasanya diatasi dengan operasi kecil. Kista muncul akibat perubahan tubuh dari remaja ke dewasa. Namun hal ini tidak selalu terjadi pada wanita.

Tidak perlu khawatir bila nyeri di payudara mendera. Cek perubahan yang terjadi dan apabila gejala berlanjut, Anda bisa berkonsultasi dengan beberapa dokter untuk memastikan apakah perlu diambil tindakan tertentu. Selalu sayangi payudara Anda.
sumber:www.fimadani.com/5-jenis-nyeri-payudara-yang-perlu-diketahui-wanita/

Analisa:Pilgub JATENG 2013(2)

Disini saya sebut bahwa telah terpetakan sebelum dimulai karena menurut analisa kami nanti petahanalah yang akan keluar sebagai pemenang dengan terpentalnya petarung terkuatnya yaitu wakil gubernur Rustriningsih dari panasnya rimba perebutan kursi Jateng 1 maka persaingan sudah sangat dibaca dengan jelas bahwa mentalnya rekomendasi dari PDIP terhadap wakil gubernur sangat menguntungkan petahana,dimana asumsi itu nanti akan kita urai dibawah ini

Bahwa pemilihan gubernur lain dengan pemilihan bupati dimana uang bisa beredar dari pintu ke pintu dan hal ini sangat dominan mempengaruhi pemilih di jawa tengah namun hal itu juga bisa terjadi mengingat ada salah satu kandidat yang konon disokong dana yang power full dan koalisi beberapa partai yg total kalau dijumlah memiliki jumlah kursi terbesar,namun apakah bisa betul2 terdistribusikan uang itu kepada pemilih ini yang lalu menjadi pertanyaan,mengingat luas wilayah yg terdiri 35 kabupaten/kota yang sebaran wilayah,kondisi sosial&ekonomi serta karakteristik yg juga berbeda,kemudian jumlah pemilih yang sedemikian banyaknya,hal itu juga dipengaruhi sedikitnya jumlah pasangan calon

Disini pertama2 kita soroti potensi masing2 calon terlebih dahulu,lalu kemudian mesin partai pengusung dan kemudian tim relawan dari masing2 kandidat tanpa meninggalkan analisa kekuatan wakil gubernur yang tersingkir dari panasnya persaingan itu,dikarenakan hanya Rustriningsihlah yang jauh2 hari sudah mempunyai tim relawan di 35 kabupaten kota yang mesinnya sudah sedemikian panasnya tinggal tancap gas karena sudah berbulan2 dipanaskan,juga analisa kekuatan dari sosok rustriningsih itu sendiri

Analisa kita mulai dari potensi calon terlebih dahulu

· Bibit waluyo-Sudijono,walaupun seperti kita ketahui bersama bahwa partai pengusung utama(Demokrat,Golkar dan PAN) dalam kondisi sedikit terseok namun penguatan ada pada diri Bibit waluyo dikarenakan sebagai petahana walaupun disebagaian tingkat masyarakat kurang mendapat simpati namun di pedesaan jawa tengah sangat dikenal sebagai gubernur dan tingkat pemahaman apa dan bagaimana sisi negatif bibit waluyo tidak terkomunikasikan sehingga masih memiliki tingkat keterpilihan yang tinggi disamping karena berada dalam sistim birokrasi dapat dipastikan akan juga memainkan sistim birokrasi juga keluarga TNI yang tentunya akan sangat loyal kepada beliau karena hanya dialah satu2nya kandidat dari keluarga TNI yang bertarung menuju jawatengah 1,hanya saja pengaruh kekuatan pasangan beliau ini tidak terlalu kuat dimasyarakat namun bisa saja karena beliau adalah rektor unes dimana unes adalah lembaga pendidikan calon2 pendidik dan setelah lulus menjadi guru bisa terjadi mobilisasi di sektor ini,sebagai petahanapun sangat diuntungkan dengan pencitraan karena baliho aktualisasinya telah ada dimana2 lewat program2 satuan kerja propinsi jawatengah dan pemberitaan di media tentang tugas2 gubernur

· Hadi Prabowo-Don Murdono,pasangan ini diusung koalisi enam partai politik yang ada beberapa partai dalam kondisi siap tempur dan lumayan mendapat simpati secara nasional dan tradisional jawa tengah sehingga akan mampu menarik pemilih yang pragmatis,disamping kekuatan pendanaan juga karena Hadi prabowo adalah sekda jawa tengah bukan tidak mungkin juga akan menggunakan kekuatan birokrasi bersaing dan berebut pengaruh dengan Bibit waluyo namun dalam hal ini Hadi selangkah lebih dalam posisi apabila bersaing menggunakan mesin birokrat dengan Bibit waluyo,disamping penguatan bahwa Hadi banyak menaungi berbagai organisasi mulai dari hoby,otomotif,profesional dan kemasyarakatan dimana telah dimobilisasi untuk menjadi relawan,juga tidak dapat dilupakan bahwa wakilnya Don murdono adalah orang lama daan ikut membidani lahirnya PDI Perjuangan dijawa tengah sehingga walaupun tidak sekuat Rustriningsih tentu akan juga dapat memecah suara loyalis PDI Perjuangan

· Ganjar Pranowo-Heru sudjatmoko diusung oleh hanya PDI Perjuangan  walaupun PDI Perjuangan dikatakan memiliki basis pendukung yang sangat loyal di jawa tengah namun pada kenyataan dari data yang ada trendnya sangat menurun sehingga dari 1999-2009 PDI Perjuangan di propinsi jawa tengah telah kehilangan kursi 1 fraksi sendiri,kelebihan dari pasangan ini hanyalah terletak pada kecerdasan Ganjar sebagai tokoh muda namun itu hanya bergulir dikalangan akademik,basis2 GMNI dan keluarga besar nasionalis tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan elakbilitas,juga karena pasangan ini tidak berada dalam lingkungan birokrasi prop Jawa tengah walaupun Heru adalah seorang Bupati,ditambah pasangan ini sama2 berasal dari jawa tengah barat daya tentunya akan sangat sulit menjaring di daerah pantura,sehingga pasangan ini jika bertempur adalah pasangan yang harus paling berdarah darah disetiap bagian jawa tengah terutama membikin pencitraan di daerah pantura sebab faktor kedaerahan masih juga kental di jawa tengah,sebab banyak sekali sisi lemah pasangan ini yg harus diberi penguatan,antara lain kesiapan mesin partai itu sendiri dimana PDI Perjuangan jawa tengah saya katakan dalam kondisi belum panas,kesiapan relawan karena ada beberapa wilayah masyarakat yang jelas sulit dimasuki oleh partai politik,juga karena kekurang mengakarnya pasangan tersebut di tubuh PDI Perjuangan sehingga haruslah membikin pencitraan dalam internal dan eksternal partai itu sendiri,tapi saya percaya bahwa pasangan ini memiliki kecerdasan luar biasa dalam pengelolaan bangunan tim suksesnnya,jangan merasa bahwa suara PDI Perjuangan masih solid dan loyal itu kunci kemenangan pasangan ini

Itulah gambaran kasar masing2 kandidat beserta kekuatanya namun permainan catur ini akan lain takkala pasangan caalon gubernur dari PDI Perjuangan itu jatuh pada Rustriningsih sebab saat ini di jawa tengah sebagai perekat kader2 pro mega yang berdarah darah ditahun 1998 hanya beliau seorang dimana kader2 PDI Perjuangan pada era tersebut loyalitas kualitas dan dedikasinya sebagai orang lapangan sangat tidak diragukan,akan terjadi nostalgia politik,akan terjadi kekuatan gotong royong karena beliau satu2nya kader PDI Perjuangan yang membumi di jawa tengah saat ini setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI,semua kader PDI Perjuangan lintas generasi akan all out tanpa diperintah memenangkan dan INILAH SEBENARNYA ROH DAN KEKUATAN PARTAI BAHWA PEMENANGAN BUKAN PAKSAAN DAN ANCAMAN TAPI BANGKITNYA DARI HATI,RASA ,PENGORBANAN DAN KESETIAKAWANAN BERSAMA DALAM PERTARUNGAN SEHINGGA TERAKUMULASI MENJADI SEBUAH SEMANGAT YANG SANGAT BESAR,disamping sebagai simbol perekat lintas generasi PDI Perjuangan Rustri juga telah mempunyai relawan di 35 kabupaten kota dimana didalamnya dipastikan terdapat kader PDI Perjuangan era 1998 yang bangkit dan termotivasi kembali semangatnya sehingga secara personal ataupun terorganisir telah membentuk tim2 relawan sendiri2 disamping rekam jejak Rustri di jawa tengah sangat baik dan satu2nya lawan tangguh melawan kedua raksasa pasangan calon diatas,lalu pasangan ideal bagi PDI Perjuanga adalah seharusnya Rustri-Ganjar walaupun sama2 dari barat daya Jateng namun Rustri ternyata juga sudah membumi di daerah Pantura Jawa tengah

sumber:politik.kompasiana.com/2013/03/16/analisis-pilgub-jawa-tengah-yang-tengah-terpetakan-sebelum-pertarungan-dimulai-537438.html

ANALISA PILGUB NTB 2013(2)

Pilgub NTB akan dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2013. NTB yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota memiliki Daftar Penduduk Pontensial Pemilih Pemilu (DP4) berjumlah 3.917.954. Sedangkan yang sudah terdaftar pada Daftar Pemiih Sementara (DPS) sebanyak 3.452.628. KPU NTB sudah menyiapkan 8.924 TPS untuk Pilgub NTB.
Pada pilgub NTB 2013, ada lima bakal calon yang mendaftarkan diri. Salah satu bakal calon yang mendaftar melalui jalur independen, Lalu Ranggalawe dan Ahmad Mukhlis (LARIS). Sedangkan 4 pasangan lainnya didukung oleh partai politik.
Pada tanggal 25 Maret 2013, KPU menetapkan 4 pasangan cagub/cawagub untuk pilgub NTB. Pasangan LARIS tidak diloloskan karena tidak memenuhi syarat.  Jadi yang bertarung dalam pilgub adalah:
·         TGH. M. Zainul Majdi dan Muhammad Amin (TGB-Amin) yang diusung oleh Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, PKB, PAN, PDI Perjuangan, dan Partai Gerindra.
·         Harun Al Rasyid dan TGH. L. Muhyi Abidin (Harum) yang diusung oleh Partai Hanura, PNBK Indonesia, PPDI, Partai Buruh, PNIM, PDP, PSI, PPNUI, PPN, PPI, PKP, partai Patriot, Partai Merdeka, PMB, PIS, Partra Barnas, Partai kedaulatan dan PKPI.
·         DR. K.H. Zulkifli Muhadli dan Prof. DR. H. Muhammad Ichasn (Zul-Ichsan) diusung oleh Partai Bulan Bintang, PKNU, PKPB dan PPPI
·         H. Suryadi Jaya Purnama dan Johan Rosihin (SJP-Jo) diusung oleh PKS, PBR dan PPRN.
Empat pasangan calon ini akan memperebut kursi NTB-1 dan NTB-2. Sang incumbent, Tuan Guru Bajang (TGB) akan siap bertarung dengan kandidat lainnya.
Analisa Faktor Menuju Kemenangan Cagub/Cawagub
Secara teoritis terdapat beberapa faktor yang diasumsikan dapat berpengaruh terhadap suara yang akan diperoleh oleh kepala daerah. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut:
1.    Pengaruh Figur Cagub dan Cawagub
Banyak survey membutikan bahwa pemilih di Indonesia lebih memperhatikan figur dari pada visi, misi serta partainya. Partai seolah-olah hanya menjadi jembatan oleh cagub/cawagub untuk bisa menjadi calon/kandidat. Partai kurang bisa memberikan dampak yang besar kepada cagub/cawagub, karena saat ini masyarakat sudah tidak terlalu percaya kepada partai. Apa pun partainya kalau calonnya atau figurnya oke maka akan dipilih oleh rakyat.
Dari figur kandidat paling tidak ada dua hal yang menjadi daya tarik pemilih, yaitu performance (penampilan) calon dan track record (rekam jejak) calon. Performance ini lebih mengarah kepada bagaimana cagub/cawagub mencitrakan diri kepada masyarakat. Masyarakat akan lebih memilih calon pemimpinnya memiliki kredibelitas, kapabalitas dan integritas. Ketampanan dan attitude juga masuk dalam performance. Sedangkan track record/rekam jejak calon memiliki pengaruh yang sangat besar. Masa lalu atau pengalaman kerja dari calon akan berpengaruh utuk diterima oleh masyarakat.
Melihat cagub/cawagub NTB tahun 2013, maka bisa dilihat berbagai figur yang memiliki peformence dan track record yang mumpuni. Calon incumbent, TGB, merupakan kandidat yang bisa dikatagorikan lebih dari calon lainnya. Bagaimana tidak sang incumbent mempunyai latar belakang keluarga yang bisa dikatakan sudah sangat berjasa bagi NTB, khususnya di Lombok. Bapak dari TGB merupakan pendiri dari NW, yang merupakan organisasi besar di Pulau Seribu Masjid. Hal ini akan sangat membantu untuk menarik suara masyarakat untuk memilihnya.
Selain incumbent, bisa dilihat mantan Gubernur NTB, Harun Al Rasyid juga menjadi calon. Harun merupakan tokoh yang memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam dunia pemerintahan, baik di ekskutif maupun legislative. Saat ini Harun sebagai anggota DPR RI. Selain itu juga bisa dilihat bagaimana Bupati Sumbawa Barat, Kyai Zul, menjadi calon. Dan yang tidak kalah lagi adalah mantan aktifis yang memiliki semangat yang luar biasa, SJP.
Ke empat pasangan calon gubernur tersebut memiliki pendamping/cawagub yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, ada yang politisi dan akademisi. Hal ini akan menambah magnet suara terhadap pasangan tersebut.
Dalam hal figur, Penulis menaruh pasangan TGB-Amin di atas calon lainnya. TGB, penulis rasa sebagai seorang figur yang sangat dikenal oleh masyarakat NTB.
2.    Isu Politik dari Pasangan Cagub/Cawagub
Dalam pemilihan gubernur langsung, dimana masyarakat memiliki peran yang sangat penting harus bisa dipengaruhi oleh cagub/cawagub. Isu-isu politik yang akan diangkat oleh cagub/cawagub akan memberikan dampak yang sangat besar dalam maraih suara rakyat. Isu politik yang sering dipakai oleh calon adalah mengenai agama, suku, daerah dan partai.
Kalau kita melihat cagub/cawagub NTB tahun 2013 mungkin bisa dikatakan dari segi agama homogen. Cagub/cawagub NTB semuanya beragama Islam. Tetapi kalau dilihat dari suku, maka semua suku di NTB terwakili. Harun berasal dari suku Mbojo, Kyai zul dari suku Samawa dan dua pasangan lainnya, TGB dan SJP berasal dari suku sasak. Isu politik yang akan diangkat oleh masing-masing kandidat juga tidak terlepas dari pengaruh partainya.
Dari ke empat pasangan cagub/cawagub NTB harus bisa memberikan isu politik yang kira-kira sangat berpengaruh besar dan dibutuhkan oleh masyarakat NTB. Sampai saat ini, penulis melihat bahwa isu yang diambil oleh cagub/cawagub belum ada yang bisa dikatakan frontal dan memiliki pengaruh yang besar bagi pemilih.
3.    Platform dari Cagub/Cawagub
Platform yang dimaksud dalam hal ini adalah mengenai bagaimana Cagub/Cawagub mengenai visi dan misi yang ditawarkan selama kampanye. Meskipun masyarakat saat ini sudah tidak terlalu tergiur dengan janji-janji melalui kampanye, tetapi paling tidak akn bisa membantu. Kampanye akan bermakna ketika cagub/cawagub menawarkan program yang berkaitan langsung dengan situasi dan kondisi masyarakat saat ini.
Dari ke empat pasangan Cagub/Cawagub NTB belum memberikan suatu visi dan misi yang jelas. Tetapi ada beberapa calon sudah menawarkan visinya. Ada yang melalui iming-iming pendidikan dan kesehatan gratis. Masyarakat NTB masih menunggu visi yang akan ditawarkan oleh cagub/cawagub.
Dari ketiga faktor tersebut, cagub/cawagub NTB 2013 masih memiliki peluang yang terbuka untuk memenangkan kursi NTB-1 dan NTB-2. Tetapi, penulis melihat pasangan TGB-Amin memiliki peluang yang lebih besar dari pada calon lainnya. Ini disebabkan oleh sang incumbent adalah figur yang masih dinilai oleh masyarakat memiliki kapabalitas dan integritas untuk membangun NTB.
Suara TGB Pada Pilgub NTB 2008 untuk Pilgub 2013?
Pada pemilihan gubernur NTB 2008 diikuti juga oleh empat pasangan cagub/cawagub. Pasangan BARU (TGB-Munir) memenangkan pilkada NTB. Pada tahun 2008 dari 9 kabupaten/kota (KLU masih LOBAR), TGB hanya mampu meraih suara terbanyak di 5 Kabupaten/Kota, yaitu Lombok Timur, KSB, Sumbawa, Kota Bima dan Kabupaten Bima. Tetapi kalau melihat peta politik saat ini, maka TGB akan sulit mempertahankan daerah atau basis kemenangannya pada pilgub 2008 itu. Ini disebabkan oleh ada cagub/cawagub dari daerah tersebut.
Misalnya, di Kabupaten Sumbawa Barat akan sulit untuk TGB mmepertahankannya, karena Bupati KSB juga ikut sebagai cagub. Di wilayah Bima juga bisa dikatakan sulit kerena Harun berasal dari Kota Bima dan sukunya Mbojo. Dan kalau kita melihat daerah atau kabupaten kelahirannya, Lombok Timur, maka disini juga bisa dikatakan sulit bagi TGB, karena cagub dari Lotim ada 2 (TGB dan SJP) dan Cawagub ada 2 (Ichsan, Muhyi). Otomatis masyarakat Lotim akan terbagi ke empat pasangan calon yang ada. Kalau di Kabupaten Sumbawa mungkin akan masih TGB unggul karena Cawagub, Amin, berasal dari daerah ini.
Tetapi kalau melihat Kabupaten lainnya, baik Lombok Barat, Lombok Tengah, Kota Mataram, KLU dan Dompu maka suara untuk masing-masing calon masih sama kuat. Khususnya untuk pasangan TGB-Amin mungkin akan meraih kemenangan di Lombok Barat, karena Bupati Lombok Barat, Zaini Aroni, selaku ketua DPP Golkar memiliki pengaruh yang sangat besar di kabupaten ini.
Dari ke empat pasangan cagub/cawagub, penulis masih menjagokan pasangan TGB-Amin untuk merebut kursi NTB-1 dan NTB-2. Ini disebabkan oleh faktor figur yang dimiliki oleh TGB. TGB sebagai putra dari pendiri NW adalah tokoh muda yang memiliki kapabalitas, baik dari knowledge, skill dan attitude. Track record dari TGB selama memimpin juga akan menjadi pertimbangan bagi pemilih. NTB selama kepemimpinan TGB bisa lebih baik dari sebelumnya dan banyak prestasi yang diraih. Hal ini akan menjadi magnet bagi masyarakat untuk memilihnya. Penulis juga memprediksikan, pilgub NTB akan berlangsung satu putaran.

sumber:dedetzelth.blogspot.com/2013/03/analisa-pilgub-ntb-2013.html

Tips agar dikaruniahi anak cantik

TIPS DIKARUNIAI ANAK CANTIK

ingin punya anak berparas cantik (fisik dan hatinya), tentu tips dari Rasulullah solusinya.Apa sajakah itu?

Hubungan (biologis) suami istri berpengaruh pada jasmani dan rohani anak. Seorang perempuan mendatangi Rasulullah SAW, seraya berkata:
“Wahai Rasulullah, bagaimana Allah SWT dapat dikatakan adil, padahal Dia telah memberikan anak yang buta kepadaku?”
Dalam menjawab protesnya beliau menjawab: “Apakah ketika kalian berhubungan, suamimu meminum minuman keras (khamar)?”
“Ya, wahai Rasulullah.” Jawabnya. Lantas beliau kembali bersabda: “Jika demikian maka cercalah diri kalian sendiri.”

Untuk itu, inilah beberapa tips islami hubungan suami istri agar dikaruniai anak yang berparas cantik sekaligus berakhlak baik:

• MEMILIH WAKTU
Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, janganlah melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada awal bulan (bulan hijriyah), pertengahan dan akhir bulan. Karena ada kemungkinan besar akan menyebabkan gila, terkena penyakit kusta, cacat anggota tubuh dan akal istri dan anak.” (Makarimal Akhlak)

• BERWUDHU
Diantara hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum melakukan hubungan suami istri ialah berwudhu atau dalam keadaan suci, menyebut nama Allah SWT dan berdoa akan mencegah dari campur tangan setan

• BACA BASMALAH
Setan memang selalu mengganggu manusia. Pertanyaannya, apa yang dimaksud campur tangan setan dalam anak-anak kita?

Dalam tafsir Shafi karya Faiz Kasyani, telah dinukil dari Imam Shadiq bahwa beliau berkata: “Sewaktu kalian memulai hubungan suami istri dengan nama Allah SWT maka setan akan menjauh dari kalian. Namun jika tidak memulai dengan menyebut nama Allah SWT maka setan akan ikut campur dalam perbuatan kalian.”

• TENANG
Iman Ali Zainal Abidin berkata: ”Jika seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya dalam keadaan tenang, tidak dalam keadaan rasa khawatir dan tidak grogi maka sperma akan masuk ke dalam rahim istrinya dalam keadaan tenang pula. Dan paras anak akan mirip dengan ayah dan ibunya. Namun jika seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya dalam keadaan tidak tenang, ada rasa khawatir dan grogi maka sperma akan masuk ke dalam rahim dalam keadaan tidak tenang pula. Serta paras anak mirip dengan paman, bibi, dari kedua belah pihak dan anggota keluarga lainnya.” (Sayyid Ali Husaini Zadeh).

• RAHASIA
Agar kita dikaruniai anak cantik lahir batin (saleha), hendaknya merahasiakan hubungan itu dari anak-anak. Jangan sampai anak-anak mengetahuinya. Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as yang telah dinukil dari kakeknya Rasulullah SAW berkata: “Sumpah demi Tuhan yang jiwaku berada di bawah kekuasaannya, jika seorang suami hubungan biologis dengan istrinya, sementara anaknya ada di kamarnya melihatnya, mendengar omongan dan desah nafasnya, ketahuilah anak tersebut tidak akan bahagia, baik anak laki-laki maupun perempuan maka akan menjadi pezina.” (Wasa’il Asy-Syi’ah). Mudah-mudahan doa dan ikhtiar kita diijabah (dikabulkan) oleh Allah SWT. Amin.

Doa agar Anak Salehah: QS. Al Ahqaaf (46): 15
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Rabbi auzi’nii an-asykura ni’matakallatii an-amta ‘alayya wa ‘alla waalidayya wa an ‘a’mala shaalihan tardhaahu washlih lii fii dzurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal muslimiin.”

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". —
 

HADIST TENTANG NABI KHIDIR(2)

Hadits-hadits yang menerangakan bahwa Nabi Khidhir masih hidup adalah:
1. Ad-Daraqathni riwayat dari Ibnu ‘Abbas: “Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur (tahallul) kepala satu sama yang lain.” Ibnu Hajar mengatakan sanadnya lemah. Sementara riwayat Ahmad dalam az-Zuhd dan ath-Thabarani dengan penambahan “Mereka berdua berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis.” Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.
2. Musnad Abu Usamah

“Nabi Khidhir di samudra dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat Dzul Qarnain.” ( Lihat Syawahid al-Haq hlm. 200 tentang 4 hadits yang dibawakan Ibnul Jauzi. )

Al-Hafizh al-Munawi mengatakan bahwa hadits tentang ini dha‘if, akan tetapi menjadi kuat (hasan) karena banyaknya riwayat dengan lafazh yang berbeda-beda termasuk dalam al-Mustadrak. Dan kesimpulannya hadits-hadits di atas adalah hasan atau shahih bukan lagi dha‘if. (Faidh al-Qadir juz 3 hlm. 618-619.)
Syaikh Yusuf an-Nabhani mengatakan: “Keterangan bahwa Nabi Khidhir masih hidup adalah sudah menjadi ketetapan para wali dan didukung oleh para ahli fiqh, ahli ushul dan hampir mayoritas ahli hadits, begitulah yang dikatakan oleh Syaikh Abu ‘Amr bin ash-Shalah yang dinukil oleh an-Nawawi dan menyetujuinya.” (Syawahid al-Haq hlm. 198-200.)

Beliau menambahkan, sejumlah masyayikh besar bahkan tak terhitung jumlahnya, ada yang pernah berkumpul satu majelis dengan Nabi Khidhir. Izzuddin bin Abdissalam saat ditanya apakah Nabi Khidhir masih hidup, beliau mengatakan: “Demi Allah, tujuh puluh para shiddiqin mengabarkan bahwa mereka melihat Nabi Khidhir dengan mata kepala mereka.”

Masih kata beliau (Yusuf an-Nabhani): “Demi Allah, telah mengabarkan kepadaku tidak hanya satu waliyullah, bahwa mereka pernah berkumpul dengan Nabi Khidhir. Bahkan demi Allah, para auliya’ mengabarkan kepadaku bahwa aku pernah berkumpul satu majelis dengan Nabi Khidhir dan bertanya sesuatu kepadaku dan aku menjawabnya, namun aku tidak mengenalnya karena orang yang dapat mengenalnya hanyalah orang yang mempunyai nur (cahaya keimanan). Keterangan ini disampaikan karena Ibnul Jauzi ingkar terhadap masih hidupnya Nabi Khidhir serta menyelisih keterangan para wali yang shiddiqin.

Menurut al-Yafi‘i, keterangan yang diberikan Ibnul Jauzi dengan menyampaikan hadits-hadits tentang masih hidupnya Nabi Khidhir adalah saling bertentangan. Beliau ingkar tapi anehnya juga meriwayatkan 4 hadits muttashil yang menerangkan tentang masih hidupnya Nabi Khidhir
( Ibid. hlm. 200 dan Fatawi Haditsiyyah hlm. 218.)

Di antara ulama yang mengatakan Nabi Hidhir masih hidup adalah:
1. As-Suyuthi dalam Khasha’ish
2. Wahb bin al-Munabbih dalam al-Mubtada’
3. Al-Khazin dalam tafsirnya
4. An-Nawawi
5. Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawi Haditsiyyah
6. Al-Hafizh Ibnu Hajar
7. Ash-Shafuri dalam Nuzhatul Majalis
8. Imam Nawawi Banten dalam Nur azh-Zhalam. Beliau mengatakan masalah Nabi Khidhir masih hidup diperselisihkan ulama namun pendapat yang bisa dipegang adalah Nabi Khidhir masih hidup.
9. Dan lain-lain.

Bukti bahwa Nabi Khidhir masih hidup adalah:
1. Sayyidina Ali yang melihat Nabi Khidhir berada di Ka’bah. (Inayatul Muftaqir hlm. 52. )
2. Al-Mursyi, murid Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili mengatakan: “Nabi Khidhir masih hidup, dan aku benar-benar telah bersalaman dengan tanganku ini. Pernah suatu hari Nabi Khidhir As. mendatangiku dan beliau mengenalkan diri dan aku minta supaya diberi tahu tentang arwah-arwah orang muslim, apakah disiksa atau diberi nikmat? Andai datang kepadaku seribu ahli fikih dan mendebatku bahwa Nabi Khidhir telah wafat, maka aku tidak akan mengikuti pendapat mereka.” (Al-Madrasah asy-Syadziliyyah hlm. 186 )
3. Abul Hasan asy-Syadzili yang bertemu Nabi Khidhir di padang Aidzab. (An-Nafahat asy-Syadziliyyah hlm. 280.)
4. ‘Umar bin Sinan mengatakan: “Kami berpapasan dengan Ibrahim al-Khawwash, aku berkata kepadanya: ‘Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkan yang engkau lihat dalam perjalananmu!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku bertemu dengan Nabi Khidhir As. dan minta untuk menemaniku dalam perjalanan, lalu aku khawatir malah merusak sifat tawakalku (kepada Allah) dengan merasa nyaman bersama dia, maka kemudian aku berpisah dengannya.” ( Risalah al-Qusyairiyyah hlm. 166. )
5. Bisyr al-Hafi menceritakan:
“Aku mendengar Bilal al-Khawwash berkata: ‘Satu waktu aku berada di Padang Tih Bani Isra’il. Tiba-tiba seorang laki-laki menemaniku berjalan, dan aku keheranan. Kemudian aku diberi ilham oleh Allah bahwa laki-laki tersebut adalah Nabi Khidhir As. Kemudian aku bertanya kepada laki-laki tesebut: ‘Demi kebenaran Allah yang haq siapakah saudara?’ Laki-laki tersebut menjawab: ‘Aku saudaramu, Khidhir.’ Lalu aku katakan: ‘Aku bermaksud bertanya kepadamu?’ ‘Bertanyalah!’ jawab Khidhir. Lalu Bilal bertanya: ‘Bagaimana pendapat engkau tentang asy-Syafi’i ra.?’ Khidhir menjawab: ‘Dia laki-laki yang shiddiq …’” (Ibid. hlm. 405.)

Lebih lengkapnya baca ‘Inayatul Muftaqir karangan Syaikh Muhammad Mahfuzh Termas yang telah dikaji ulang oleh Syaikh KH. Maimun Zubair Sarang, sebuah kitab yang membicarakan tentang Nabi Khidhir secara lengkap yang dinukil dari kitab al-Ishabah karya al-Hafizh Ibnu Hajar. —

HADIST TENTANG NABI KHIDIR (1)

Pendahuluan

Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.

Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Ada pula yang mengatakan beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Khidir waliyullah yg penuh misteri, guru Nabi Musa 'alaihis salam, pemilik rahasia ilmu Ladunni langsung dari Allah. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!

Riwayat dusta tentang Nabi Khidir

Shufi pertama yang memalsukan kisah shufistik Nabi Khidir adalah Muhammad bin Ali bin Husain at Tirmidzi yang bergelar al Hakim (bukan Ahlu Hadits Imam at Tirmidzi), dan wafat pada akhir abad ketiga hijriyah. (Al Fikru Ash Shufi, oleh Abdurrahman Abdul Khaliq).

Riwayat tentang perjumpaan Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Nabi Khidir.

Ya’qub bin Sufyan meriwayatkannya dalam Tarikhnya dari jalan Abdul Aziz ar Ramli dari Dhamrah bin Rabi’ah dari as Sari bin Yahya dari Riyadh bin Ubadah, dia berkata,

 “Umar bin Abdul Aziz keluar untuk shalat dan ada seorang tua yang bertelekan pada tangannya, lalu aku berkata dalam diriku, ‘Orang tua ini sangat dingin perangainya.’ Maka tatkala dia shalat dan memulainya, aku menyusulnya, lalu aku berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki Amir dari orangtua yang bertelekan pada tanganmu?’ Dia (Umar) berkata, ‘Wahai Riyah apakah kamu tidak tahu dia?’ Aku berkata, ‘Ya.’ Dia (Umar) berkata, ‘Aku tidak mendugamu kecuali orang yang shalih, itu saudaraku Khidir, dia datang padaku lalu mengajariku, sesungguhnya aku bertanya tentang masalah umat dan sesungguhnya aku akan berlaku adil.

Abu Husain bin al Munadi berkata, “Keterangan Riyah seperti angin selain itu semua keterangannya lemah, keadaannya tidak lepas dari satu perkara ini, kalau tidak dinisbahkan kepada perawi-perawi yang tsiqah dalam keadaan lalai atau sebagian mereka sengaja memasukkannya.

Nabi Khidir shalat dengan Madzhab Syafi’i.

Diriwayatkan secara dusta dari Ahmad Sirhindy, bahwa beliau menulis:

 “…pada hari itu aku melihat dalam halaqah subuh, bahwa Ilyas dan Khidir hadir dalam bentuk rohani. Maka berkatalah Khidir dalam penyampaian rohani, ‘Kami dari alam arwah. Yang Haq telah memberi ruh kami kemampuan sempurna untuk berbentuk dan berserupa dengan bentuk-bentuk jasad. Dari ruh itu keluar gerakan-gerakan dan diam jasmaniah, ketaatan dan ibadah jasadiyah yang keluar dari fisik.’ Di sela-sela itu aku berkata, “Kamu shalat dengan madzhab Syafi’i.’ Ia menjawab, ‘Kami tidak terbebani dengan syariat-syariat. Akan tetapi, demi menjaga kepentingan kewalian quthb yang terikat pada kami. Sedangkan ia bermadzhab Syafi’I, maka kami shalat di belakangnya dengan madzhab Syafi’i…dst” (Al Muntakhabat min al Maktubat, Ahmad al Faruky, hal. 91, Turki).

Nabi Khidir pengikut Hanafi, bukan Syafi’i.

Dalam kitab Ma’arijul Albab halaman 44, dari beberapa Syaikhnya, menyebutkan:

“Bahwa Khidir hadir di majelis fiqih Abu Hanifah setiap hari selepas shalat subuh untuk belajar syariat. Ketika Abu Hanifah meninggal, Nabi Khidir memohon kepada Tuhannya untuk mengembalikan ruhnya ke kuburnya demi kesempurnaan ilmu syariatnya. Dan, sungguh Nabi Khidir mendatangi Abu Hanifah di kuburnya untuk mengaji ilmu syariat darinya di dalam kubur. Ia melakukan hal itu selama lima belas tahun hingga ia menyempurnakan ilmu syariat.”

Lihatlah kedustaan yang besar itu. Mengapa Nabi Khidir tidak belajar syariat dari tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam? Mengapa juga ia tidak belajar dari Khulafa’ur Rasyidin, padahal mereka adalah manusia yang paling mengerti syariat. Abu Hanifah sendiri pernah berkata, “Tinggalkanlah pendapatku kepada ucapan para shahabat Rasulullah, sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang wahyu.”

Dalil Bantahan tentang pendapat yang menyatakan bahwa nabi khidir masih hidup

Orang-orang berselisih mengenai hidup atau wafatnya Khidir. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal. Seluruh hadits yang mengatakan bahwa Khidr masih hidup adalah tidak sah, berdasarkan kesepakatan ahli al naql. Tidak ada keterangan yang dapat dipercaya bahwa Khidir pernah berjumpa atau bersama orang dari para nabi dan selainnya kecuali Nabi Mûsâ 'alaihissallam. sebagaimana telah dijelaskan di dalam al Qur’ân surat al Kahfi ayat 60 – 82.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.

Riwayat-riwayat tentang hidupnya Khidr hanyalah disebut oleh sebagian periwayatnya dengan tanpa menyebutkan kelemahan riwayat tersebut. Adakalanya dikarenakan ketidakmengertian periwayat atau karena sudah jelas bagi ahli hadits. Begitulah penuturan Abû al Khaţţâb ibn Dihyah. Hal ini senada dengan perkataan Abû al Husain ibn al Mubârak ketika ia menelusuri riwayat-riwayat tentang Khidr hidup kekal atau tidak, bahwa hadis-hadis marfû‘ yang menjelaskan tentangnya semuanya adalah wâhiyah (lemah) dan sanad (riwayat) ahl al kitâb adalah gugur karena ketidaktšiqahan mereka.

Abû al Khaţţâb juga menambahkan, pengakuan para ulama bahwa mereka pernah bertemu dengan Khidr adalah suatu keganjilan yang cukup serius. Apakah seseorang yang berakal dapat berjumpa dengan seseorang yang tak dikenal dan berkata kepadanya, “Saya Fulân” kemudian ia membenarkannya?[Mubârak al Barrâk, al Da‘îf wa al Maudû‘ min Akhbâr al Fitan wa al Malâhim wa Asyrâţ al Sâ‘ah, (Dâr al Salâm, tth.), hal. 108. Lihat juga Labib MZ, Kisah Perjalanan Hidup Nabi Khidhir; Benarkah Nabi Khidhir itu Masih Hidup Ataukah Sudah Mati?, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2003), hal. 94]

Ulama yg mengatakan Khidr telah wafat
Di antara para ulama yang berpendapat ketidakkekalan Khidr adalah Imam al Bukhârî, Ibrâhîm al Harbî, Abû Ja‘far ibn al Munâdî, Abû Ya‘lâ ibn al Farrâ’, Abû Ţâhir al ‘Abbadî, Abû Bakr ibn al ‘Arabî, Ţâ’ifah, dan lain-lain.[Al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536.] Mereka mendasarkan pendapatnya kepada hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda di akhir hayatnya:

 صَلَّى بِنَا الَّنِبيُّ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِعشَاءَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتُكُمْ لَيْلَتُكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلىَ ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ –اللفظ عن البخاري

Rasulullah shalat ‘Isyâ’ bersama kami di akhir hayatnya. Ketika beliau telah salam, beliau berdiri lalu bersabda, “Apakah kalian tahu malam kalian ini? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang masih hidup di muka bumi ini sampai seratus tahun ke depan”, (Lafaz hadits dari al Bukhârî). [Abû ‘Abdullâh Muhammad ibn Ismâ‘îl al Bukhârî, Şahîh al Bukhârî, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), hal. 55]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al Bukhârî, Imam Muslim, Imam al Tizmizi, Imam Abû Dâwud dan Imam Ahmad dalam masing-masing kitab haditsnya melalui jalur periwayatan yang sangat banyak dan bermuara kepada dua orang sahabat, yakni Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, serta keduanya langsung mendengarnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya ini merupakan hadis marfû‘. Para ulama ahli hadis telah sepakat mengenai keşahîhan hadits ini termasuk Imam al Tirmîzî.[Lebih jelas lihat BAB III pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelang akhir hayatnya.]

Selain berpegang kepada hadis di atas, mereka yang meyakini bahwa Khidr sudah meninggal dunia, mendasarkan kepada firman Allah dalam al Qur’ân surat al Anbiyâ’ ayat 34:

 وما جَعَلنا لِبَشَرٍ مِن قَبلِكَ الخُلدَ أفَإن مت فَهُمُ الخالِدُون

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyâ’: 34).

Dengan demikian jelas Khidr sudah meninggal dan ini tidak dapat terbantahkan lagi. Dan kalaupun dia masih hidup dan benar-benar anak kandung Nabi Âdam dan Siti Hawâ, pasti ada seorang nabi yang ditemuinya selain Nabi Mûsâ alaihissalam, sedangkan tidak ada satu pun riwayat şahîh yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan nabi selain Mûsâ alaihissalam. Dan apabila ia hidup kekal pasti ia akan menemui masa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta wajib bertemu dengan beliau untuk berbai‘at dan menjadi umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena hal demikian merupakan perjanjian antara Allah dan para nabi yang diutus-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasûl yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Âli ‘Imrân: 81).

Ringkasnya, jikalau Khidr alaihissalam hidup kekal maka ia terikat dengan perjanjian tersebut dan harus menemui Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beriman kepadanya dan ikut serta dalam setiap perjuangannya mensyiarkan agama Islam. Akan tetapi—lagi-lagi—tidak ada satu pun riwayat sah yang menunjukkan bahwa Khidr pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Terlebih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ثُمَّ أَنَّ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَتىَ النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَبِ فَقَرَأَهُ الَّنبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أُمَتِّهُوْكُوْنَ فِيْهَا يَا بْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةَ لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتَصَدَّقُوْا بِهِ , وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي – رواه أحمد

Dari Jâbir ibn ‘Abdullâh, sesungguhnya ‘Umar ibn al Khaţţâb datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kitab yang diberikan kepadanya dari sebagian ahlul kitâb. lalu ‘Umar membacakannya di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau marah dan bersabda, “Apakah kamu ragu padanya, wahai Ibn al Khaţţâb? Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih jernih, maka janganlah kalian bertanya kepada mereka (ahl kitâb) tentang sesuatu apapun, maka mereka memberitahukan kebenaran kepada kalian, lalu kalian mendustakannya, atau mereka memberitahukan kebatilan kepada kalian, lalu kalian membenarkannya. Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya Mûsâ alaihissalam masih hidup, tidak ada keharusan kecuali ia harus mengikuti ajaranku”. (HR. Ahmad).[Abû ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, Musnad al Imâm al Hâfiz Abî ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), Juz 3, hal. 338. Hadis ini telah dijelaskan pada Bab III tentang sumpah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam]

Hadits di atas walaupun membicarakan Nabi Mûsâ alaihissalam tetapi ia mengena kepada nabi-nabi lainnya, termasuk nabi Khidr. Apabila Khidr alaihissalam masih hidup maka ia harus bertemu dengan Rasulullah, mengaku beriman kepadanya, mengikuti şalat berjama‘ah dan berjihad bersamanya, sebagaimana Nabi ‘Îsâ alaihissalam mengakuinya dan şalat bersamanya sebagai ma’mûm ketika Rasulullah dalam perjalanan Isrâ’ dan Mi‘râj. Karenanya, Abû al Husain ibn al Munâdi mengatakan, banyak orang-orang yang keliru dan sesat dalam memahami hadits sehingga mengklaim bahwa Khidr alaihissalam itu hidup kekal sampai hari kiamat nanti.[Muhammad Syams al Haq al ‘Azîm al Abadî Abû al Ţayyîb, ‘Aun al Ma‘bûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud, (Beirut: Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1415 H.), Juz 11, hal. 339]

Untuk semakin memperkuat pendapat bahwa Khidr tidak hidup abadi, para ulama mengangkat hadis tentang perang Badar berikut:

حَدثَّنَا عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِيْنَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةُ عَشْرِ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِقبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ وَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اَلَّلهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ آتِنِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ إِنْ تُهْلِك هَذِهِ الْعَصَابَةَ مِنْ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَد فيِ اْلأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ مِنْ مَنْكَبَيْهِ فَآتاَهُ أَبُوْ بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكَبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ كَفَاكَ مُناشَدَتُكَ رَبُّكَ, إِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ فَأَنْزَلَ الله إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ – رواه الترمذي


Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al Khaţţâb, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kaum Musyrikîn yang berjumlah 1000 orang sedangkan para sahabatnya hanya berjumlah 3 ratus belasan orang. Maka Nabi saw. menghadap kiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di bumi ini”. Beliau cukup lama memanjatkan doa kepada Tuhannya seraya mengangkat kedua tangannya sehingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya. Maka Abû Bakr menghampiri beliau dan mengambil selendangnya kemudian meletakkannya kembali di kedua pundak nabi lalu memeluknya dari belakang seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya) “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. [QS. al Anfâl: 9]. (HR. Tirmîzî). [Muhammad ibn ‘Îsâ Abû ‘Îsâ al Tirmîzî, Sunan al Tirmîzî, (Beirut: Dâr Ihyâ’ al Turâš al ‘Arabî, tth.), Juz 5, hal. 269. Lihat penjelasan hadis ini pada Bab III tentang do‘a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Perang Badar]

Melihat hadits di atas, apabila Khidr masih hidup tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan berdoa seperti itu, karena saat itu Khidr tidak bersama pasukan Rasulullah. Jadi, seandainya pasukan Rasulullah yang berjumlah 310 orang itu mati semua, tentu Rasûl tidak akan khawatir karena masih ada Khidr yang masih menyembah Allah dan menyebarkan ajaran Islam.[Abû al ‘Alâ Muhammad ‘Abdurrahmân ibn ‘Abdurrahîm al Mubârakfûrî, Tuhfah al Ahwâzî bi Syarh Jâmi‘ al Tirmîzî, (Dâr al Fikr, tth.), Juz 6, hal. 433.]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy rahimahullah berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda seusai menceritakan kisah pertemuan antara Mûsâ 'alaihissalam dan Khidr 'alaihissalam:

 يَرْحَمُ الله ُمُوْسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتىَّ يَقُصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا — رواه البخاري

“Semoga Allah merahmati Nabi Mûsâ, kita benar-benar menghendaki seandainya ia bisa bersabar sehingga dapat menceritakan kepada kita semua suatu perkara yang terjadi di antara mereka berdua”. (HR al Bukhârî). [Teks hadis lengkap beserta penjelasannya lihat Bab III pada ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di akhir cerita Mûsâ dan Khidr]

Jadi, jikalau Khidr 'alaihissalam masih hidup sampai sekarang, tentu Rasulullah tidak akan berandai-andai seperti itu, sebab ia akan berada bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. dan menunjukkan berbagai macam keajaiban-keajaiban kepada beliau.[10]

Golongan yang meyakini bahwa Khidr tidak hidup kekal, selain dalil-dalil berupa ayat al Qur’ân dan hadits-hadits di atas, mereka juga mengajukan argumentasi-argumentasi berupa asumsi-asumsi dari akal pikiran mereka. Misalnya, Ibn al Jauzî berkata, “Seandainya Khidir masih hidup, padahal seperti kita ketahui beliau hidup pada zaman Nabi Mûsâ, bahkan menurut satu cerita sudah hidup pada zaman sebelumnya, tentunya tubuhnya pun sama besar dengan tubuh manusia yang hidup pada zaman mereka, yaitu besar dan tinggi orangnya”.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 25]

Berkata Abû al Hasan ibn al Munâdi bahwa Ibrâhîm pernah ditanya tentang Khidr, maka beliau menjawab, “Dia sudah lama mati”. Orang yang mengatakan Khidr masih hidup dan gaib berarti mereka tidak benar. Tentang Khidr yang datang memberi ta‘ziyah kepada para sahabat dan keluarga Rasulullah ketika beliau wafat, sedangkan orang yang berta‘ziyah tidak nampak dan hanya terdengar suaranya, mungkin saja yang datang itu jin. Begitu juga cerita orang yang mengaku dirinya bertemu Khidr, mungkin saja yang datang itu jin atau syaiţân. Dan mengenai hadis Anas radhiyallahu 'anhu yang mengatakan Khidr masih hidup, para ulama ahli hadis sepakat menolak hadis tersebut. Seandainya ia masih hidup, pasi ia akan datang menjumpai Rasulullah dan ikut hijrah bersamanya.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 28]

Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).

 Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy rahimahullah berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]

Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]

 Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]

Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy rahimahullah berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]

Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya kepada Imam Ahmad, apakah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas masih hidup, keduanya masih ada dan melihat kita serta kita bisa mendapatkan riwayat dari mereka berdua. Kemudian Imam Ahmad menjawab:

 من أحال على غائب لم ينصف منه، وما ألقى هذا إلا الشيطان

“Siapa yang menekuni masalah ghaib (klenik), dia tidak akan bisa bersikap proporsional dalam masalah ini. Tidak ada yang membisikkan berita ini kecuali setan.”

Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia.

sumber:www.konsultasisyariah.com

HADIST TENTANG NABI KHIDIR (1)

Pendahuluan

Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah. Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.

Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir. Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Ada pula yang mengatakan beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Khidir waliyullah yg penuh misteri, guru Nabi Musa 'alaihis salam, pemilik rahasia ilmu Ladunni langsung dari Allah. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!

Riwayat dusta tentang Nabi Khidir

Shufi pertama yang memalsukan kisah shufistik Nabi Khidir adalah Muhammad bin Ali bin Husain at Tirmidzi yang bergelar al Hakim (bukan Ahlu Hadits Imam at Tirmidzi), dan wafat pada akhir abad ketiga hijriyah. (Al Fikru Ash Shufi, oleh Abdurrahman Abdul Khaliq).

Riwayat tentang perjumpaan Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Nabi Khidir.

Ya’qub bin Sufyan meriwayatkannya dalam Tarikhnya dari jalan Abdul Aziz ar Ramli dari Dhamrah bin Rabi’ah dari as Sari bin Yahya dari Riyadh bin Ubadah, dia berkata,

 “Umar bin Abdul Aziz keluar untuk shalat dan ada seorang tua yang bertelekan pada tangannya, lalu aku berkata dalam diriku, ‘Orang tua ini sangat dingin perangainya.’ Maka tatkala dia shalat dan memulainya, aku menyusulnya, lalu aku berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki Amir dari orangtua yang bertelekan pada tanganmu?’ Dia (Umar) berkata, ‘Wahai Riyah apakah kamu tidak tahu dia?’ Aku berkata, ‘Ya.’ Dia (Umar) berkata, ‘Aku tidak mendugamu kecuali orang yang shalih, itu saudaraku Khidir, dia datang padaku lalu mengajariku, sesungguhnya aku bertanya tentang masalah umat dan sesungguhnya aku akan berlaku adil.

Abu Husain bin al Munadi berkata, “Keterangan Riyah seperti angin selain itu semua keterangannya lemah, keadaannya tidak lepas dari satu perkara ini, kalau tidak dinisbahkan kepada perawi-perawi yang tsiqah dalam keadaan lalai atau sebagian mereka sengaja memasukkannya.

Nabi Khidir shalat dengan Madzhab Syafi’i.

Diriwayatkan secara dusta dari Ahmad Sirhindy, bahwa beliau menulis:

 “…pada hari itu aku melihat dalam halaqah subuh, bahwa Ilyas dan Khidir hadir dalam bentuk rohani. Maka berkatalah Khidir dalam penyampaian rohani, ‘Kami dari alam arwah. Yang Haq telah memberi ruh kami kemampuan sempurna untuk berbentuk dan berserupa dengan bentuk-bentuk jasad. Dari ruh itu keluar gerakan-gerakan dan diam jasmaniah, ketaatan dan ibadah jasadiyah yang keluar dari fisik.’ Di sela-sela itu aku berkata, “Kamu shalat dengan madzhab Syafi’i.’ Ia menjawab, ‘Kami tidak terbebani dengan syariat-syariat. Akan tetapi, demi menjaga kepentingan kewalian quthb yang terikat pada kami. Sedangkan ia bermadzhab Syafi’I, maka kami shalat di belakangnya dengan madzhab Syafi’i…dst” (Al Muntakhabat min al Maktubat, Ahmad al Faruky, hal. 91, Turki).

Nabi Khidir pengikut Hanafi, bukan Syafi’i.

Dalam kitab Ma’arijul Albab halaman 44, dari beberapa Syaikhnya, menyebutkan:

“Bahwa Khidir hadir di majelis fiqih Abu Hanifah setiap hari selepas shalat subuh untuk belajar syariat. Ketika Abu Hanifah meninggal, Nabi Khidir memohon kepada Tuhannya untuk mengembalikan ruhnya ke kuburnya demi kesempurnaan ilmu syariatnya. Dan, sungguh Nabi Khidir mendatangi Abu Hanifah di kuburnya untuk mengaji ilmu syariat darinya di dalam kubur. Ia melakukan hal itu selama lima belas tahun hingga ia menyempurnakan ilmu syariat.”

Lihatlah kedustaan yang besar itu. Mengapa Nabi Khidir tidak belajar syariat dari tangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam? Mengapa juga ia tidak belajar dari Khulafa’ur Rasyidin, padahal mereka adalah manusia yang paling mengerti syariat. Abu Hanifah sendiri pernah berkata, “Tinggalkanlah pendapatku kepada ucapan para shahabat Rasulullah, sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang wahyu.”

Dalil Bantahan tentang pendapat yang menyatakan bahwa nabi khidir masih hidup

Orang-orang berselisih mengenai hidup atau wafatnya Khidir. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal. Seluruh hadits yang mengatakan bahwa Khidr masih hidup adalah tidak sah, berdasarkan kesepakatan ahli al naql. Tidak ada keterangan yang dapat dipercaya bahwa Khidir pernah berjumpa atau bersama orang dari para nabi dan selainnya kecuali Nabi Mûsâ 'alaihissallam. sebagaimana telah dijelaskan di dalam al Qur’ân surat al Kahfi ayat 60 – 82.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia.

Riwayat-riwayat tentang hidupnya Khidr hanyalah disebut oleh sebagian periwayatnya dengan tanpa menyebutkan kelemahan riwayat tersebut. Adakalanya dikarenakan ketidakmengertian periwayat atau karena sudah jelas bagi ahli hadits. Begitulah penuturan Abû al Khaţţâb ibn Dihyah. Hal ini senada dengan perkataan Abû al Husain ibn al Mubârak ketika ia menelusuri riwayat-riwayat tentang Khidr hidup kekal atau tidak, bahwa hadis-hadis marfû‘ yang menjelaskan tentangnya semuanya adalah wâhiyah (lemah) dan sanad (riwayat) ahl al kitâb adalah gugur karena ketidaktšiqahan mereka.

Abû al Khaţţâb juga menambahkan, pengakuan para ulama bahwa mereka pernah bertemu dengan Khidr adalah suatu keganjilan yang cukup serius. Apakah seseorang yang berakal dapat berjumpa dengan seseorang yang tak dikenal dan berkata kepadanya, “Saya Fulân” kemudian ia membenarkannya?[Mubârak al Barrâk, al Da‘îf wa al Maudû‘ min Akhbâr al Fitan wa al Malâhim wa Asyrâţ al Sâ‘ah, (Dâr al Salâm, tth.), hal. 108. Lihat juga Labib MZ, Kisah Perjalanan Hidup Nabi Khidhir; Benarkah Nabi Khidhir itu Masih Hidup Ataukah Sudah Mati?, (Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2003), hal. 94]

Ulama yg mengatakan Khidr telah wafat
Di antara para ulama yang berpendapat ketidakkekalan Khidr adalah Imam al Bukhârî, Ibrâhîm al Harbî, Abû Ja‘far ibn al Munâdî, Abû Ya‘lâ ibn al Farrâ’, Abû Ţâhir al ‘Abbadî, Abû Bakr ibn al ‘Arabî, Ţâ’ifah, dan lain-lain.[Al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536.] Mereka mendasarkan pendapatnya kepada hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda di akhir hayatnya:

 صَلَّى بِنَا الَّنِبيُّ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِعشَاءَ فِي آخِرِ حَيَاتِهِ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ فَقَالَ أَرَأَيْتُكُمْ لَيْلَتُكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلىَ ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ –اللفظ عن البخاري

Rasulullah shalat ‘Isyâ’ bersama kami di akhir hayatnya. Ketika beliau telah salam, beliau berdiri lalu bersabda, “Apakah kalian tahu malam kalian ini? Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang masih hidup di muka bumi ini sampai seratus tahun ke depan”, (Lafaz hadits dari al Bukhârî). [Abû ‘Abdullâh Muhammad ibn Ismâ‘îl al Bukhârî, Şahîh al Bukhârî, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), hal. 55]

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al Bukhârî, Imam Muslim, Imam al Tizmizi, Imam Abû Dâwud dan Imam Ahmad dalam masing-masing kitab haditsnya melalui jalur periwayatan yang sangat banyak dan bermuara kepada dua orang sahabat, yakni Ibn ‘Umar dan Jâbir ibn ‘Abdullâh, serta keduanya langsung mendengarnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya ini merupakan hadis marfû‘. Para ulama ahli hadis telah sepakat mengenai keşahîhan hadits ini termasuk Imam al Tirmîzî.[Lebih jelas lihat BAB III pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelang akhir hayatnya.]

Selain berpegang kepada hadis di atas, mereka yang meyakini bahwa Khidr sudah meninggal dunia, mendasarkan kepada firman Allah dalam al Qur’ân surat al Anbiyâ’ ayat 34:

 وما جَعَلنا لِبَشَرٍ مِن قَبلِكَ الخُلدَ أفَإن مت فَهُمُ الخالِدُون

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al Anbiyâ’: 34).

Dengan demikian jelas Khidr sudah meninggal dan ini tidak dapat terbantahkan lagi. Dan kalaupun dia masih hidup dan benar-benar anak kandung Nabi Âdam dan Siti Hawâ, pasti ada seorang nabi yang ditemuinya selain Nabi Mûsâ alaihissalam, sedangkan tidak ada satu pun riwayat şahîh yang mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan nabi selain Mûsâ alaihissalam. Dan apabila ia hidup kekal pasti ia akan menemui masa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam serta wajib bertemu dengan beliau untuk berbai‘at dan menjadi umat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, karena hal demikian merupakan perjanjian antara Allah dan para nabi yang diutus-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

وإذ أخذ الله ميثاق النبيين لما آتيتكم من كتاب وحكمة ثم جاءكم رسول مصدق لما معكم لتؤمنن به ولتنصرنه قال أأقررتم وأخذتم على ذلكم إصري قالوا أقررنا قال فاشهدوا وأنا معكم من الشاهدين

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasûl yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. (QS. Âli ‘Imrân: 81).

Ringkasnya, jikalau Khidr alaihissalam hidup kekal maka ia terikat dengan perjanjian tersebut dan harus menemui Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk beriman kepadanya dan ikut serta dalam setiap perjuangannya mensyiarkan agama Islam. Akan tetapi—lagi-lagi—tidak ada satu pun riwayat sah yang menunjukkan bahwa Khidr pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Terlebih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ثُمَّ أَنَّ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَتىَ النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكِتَبِ فَقَرَأَهُ الَّنبِيَّ صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أُمَتِّهُوْكُوْنَ فِيْهَا يَا بْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةَ لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوْكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتَصَدَّقُوْا بِهِ , وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي – رواه أحمد

Dari Jâbir ibn ‘Abdullâh, sesungguhnya ‘Umar ibn al Khaţţâb datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kitab yang diberikan kepadanya dari sebagian ahlul kitâb. lalu ‘Umar membacakannya di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau marah dan bersabda, “Apakah kamu ragu padanya, wahai Ibn al Khaţţâb? Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa ajaran yang putih jernih, maka janganlah kalian bertanya kepada mereka (ahl kitâb) tentang sesuatu apapun, maka mereka memberitahukan kebenaran kepada kalian, lalu kalian mendustakannya, atau mereka memberitahukan kebatilan kepada kalian, lalu kalian membenarkannya. Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya Mûsâ alaihissalam masih hidup, tidak ada keharusan kecuali ia harus mengikuti ajaranku”. (HR. Ahmad).[Abû ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, Musnad al Imâm al Hâfiz Abî ‘Abdullâh Ahmad ibn Hanbal, (Riyad: International Ideas Home for Publishing and Distribution, 1998), Juz 3, hal. 338. Hadis ini telah dijelaskan pada Bab III tentang sumpah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam]

Hadits di atas walaupun membicarakan Nabi Mûsâ alaihissalam tetapi ia mengena kepada nabi-nabi lainnya, termasuk nabi Khidr. Apabila Khidr alaihissalam masih hidup maka ia harus bertemu dengan Rasulullah, mengaku beriman kepadanya, mengikuti şalat berjama‘ah dan berjihad bersamanya, sebagaimana Nabi ‘Îsâ alaihissalam mengakuinya dan şalat bersamanya sebagai ma’mûm ketika Rasulullah dalam perjalanan Isrâ’ dan Mi‘râj. Karenanya, Abû al Husain ibn al Munâdi mengatakan, banyak orang-orang yang keliru dan sesat dalam memahami hadits sehingga mengklaim bahwa Khidr alaihissalam itu hidup kekal sampai hari kiamat nanti.[Muhammad Syams al Haq al ‘Azîm al Abadî Abû al Ţayyîb, ‘Aun al Ma‘bûd fî Syarh Sunan Abî Dâwud, (Beirut: Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1415 H.), Juz 11, hal. 339]

Untuk semakin memperkuat pendapat bahwa Khidr tidak hidup abadi, para ulama mengangkat hadis tentang perang Badar berikut:

حَدثَّنَا عُمَرُ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِيْنَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةُ عَشْرِ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلِقبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ وَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اَلَّلهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ آتِنِي مَا وَعَدْتَنِي الَّلهُمَّ إِنْ تُهْلِك هَذِهِ الْعَصَابَةَ مِنْ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَد فيِ اْلأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ مِنْ مَنْكَبَيْهِ فَآتاَهُ أَبُوْ بَكْرٍ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلَى مَنْكَبَيْهِ ثُمَّ الْتَزَمَهُ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ كَفَاكَ مُناشَدَتُكَ رَبُّكَ, إِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ فَأَنْزَلَ الله إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ – رواه الترمذي


Diriwayatkan oleh ‘Umar ibn al Khaţţâb, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kaum Musyrikîn yang berjumlah 1000 orang sedangkan para sahabatnya hanya berjumlah 3 ratus belasan orang. Maka Nabi saw. menghadap kiblat kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, apabila Engkau membinasakan golongan ini dari umat Islam maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di bumi ini”. Beliau cukup lama memanjatkan doa kepada Tuhannya seraya mengangkat kedua tangannya sehingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya. Maka Abû Bakr menghampiri beliau dan mengambil selendangnya kemudian meletakkannya kembali di kedua pundak nabi lalu memeluknya dari belakang seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang Dia janjikan kepadamu. Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya) “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. [QS. al Anfâl: 9]. (HR. Tirmîzî). [Muhammad ibn ‘Îsâ Abû ‘Îsâ al Tirmîzî, Sunan al Tirmîzî, (Beirut: Dâr Ihyâ’ al Turâš al ‘Arabî, tth.), Juz 5, hal. 269. Lihat penjelasan hadis ini pada Bab III tentang do‘a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika Perang Badar]

Melihat hadits di atas, apabila Khidr masih hidup tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan berdoa seperti itu, karena saat itu Khidr tidak bersama pasukan Rasulullah. Jadi, seandainya pasukan Rasulullah yang berjumlah 310 orang itu mati semua, tentu Rasûl tidak akan khawatir karena masih ada Khidr yang masih menyembah Allah dan menyebarkan ajaran Islam.[Abû al ‘Alâ Muhammad ‘Abdurrahmân ibn ‘Abdurrahîm al Mubârakfûrî, Tuhfah al Ahwâzî bi Syarh Jâmi‘ al Tirmîzî, (Dâr al Fikr, tth.), Juz 6, hal. 433.]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy rahimahullah berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi”. Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda seusai menceritakan kisah pertemuan antara Mûsâ 'alaihissalam dan Khidr 'alaihissalam:

 يَرْحَمُ الله ُمُوْسَى لَوَدِدْنَا لَوْ صَبَرَ حَتىَّ يَقُصَّ عَلَيْنَا مِنْ أَمْرِهِمَا — رواه البخاري

“Semoga Allah merahmati Nabi Mûsâ, kita benar-benar menghendaki seandainya ia bisa bersabar sehingga dapat menceritakan kepada kita semua suatu perkara yang terjadi di antara mereka berdua”. (HR al Bukhârî). [Teks hadis lengkap beserta penjelasannya lihat Bab III pada ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di akhir cerita Mûsâ dan Khidr]

Jadi, jikalau Khidr 'alaihissalam masih hidup sampai sekarang, tentu Rasulullah tidak akan berandai-andai seperti itu, sebab ia akan berada bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. dan menunjukkan berbagai macam keajaiban-keajaiban kepada beliau.[10]

Golongan yang meyakini bahwa Khidr tidak hidup kekal, selain dalil-dalil berupa ayat al Qur’ân dan hadits-hadits di atas, mereka juga mengajukan argumentasi-argumentasi berupa asumsi-asumsi dari akal pikiran mereka. Misalnya, Ibn al Jauzî berkata, “Seandainya Khidir masih hidup, padahal seperti kita ketahui beliau hidup pada zaman Nabi Mûsâ, bahkan menurut satu cerita sudah hidup pada zaman sebelumnya, tentunya tubuhnya pun sama besar dengan tubuh manusia yang hidup pada zaman mereka, yaitu besar dan tinggi orangnya”.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 25]

Berkata Abû al Hasan ibn al Munâdi bahwa Ibrâhîm pernah ditanya tentang Khidr, maka beliau menjawab, “Dia sudah lama mati”. Orang yang mengatakan Khidr masih hidup dan gaib berarti mereka tidak benar. Tentang Khidr yang datang memberi ta‘ziyah kepada para sahabat dan keluarga Rasulullah ketika beliau wafat, sedangkan orang yang berta‘ziyah tidak nampak dan hanya terdengar suaranya, mungkin saja yang datang itu jin. Begitu juga cerita orang yang mengaku dirinya bertemu Khidr, mungkin saja yang datang itu jin atau syaiţân. Dan mengenai hadis Anas radhiyallahu 'anhu yang mengatakan Khidr masih hidup, para ulama ahli hadis sepakat menolak hadis tersebut. Seandainya ia masih hidup, pasi ia akan datang menjumpai Rasulullah dan ikut hijrah bersamanya.[Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 28]

Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).

 Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy rahimahullah berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]

Ibnul Munadiy berkata,“Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang dirwayatkan dalam hal tersebut”. [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]

 Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil”. [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy rahimahullah berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama”. [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]

Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy rahimahullah berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits”. [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]

Ibrahim Al-Harbi pernah bertanya kepada Imam Ahmad, apakah Nabi Khidir dan Nabi Ilyas masih hidup, keduanya masih ada dan melihat kita serta kita bisa mendapatkan riwayat dari mereka berdua. Kemudian Imam Ahmad menjawab:

 من أحال على غائب لم ينصف منه، وما ألقى هذا إلا الشيطان

“Siapa yang menekuni masalah ghaib (klenik), dia tidak akan bisa bersikap proporsional dalam masalah ini. Tidak ada yang membisikkan berita ini kecuali setan.”

Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia.

sumber:www.konsultasisyariah.com